Mendoakan, Mengusahakan, Mengikhlaskan Niat Baik ?>

Mendoakan, Mengusahakan, Mengikhlaskan Niat Baik

Sudah lebih dari 12 tahun saya berada di sini, yang membuat saya berkhianat dan murtad dari kota asal saya, Jakarta. Jujur saja, sudah sangat banyak perubahan yang saya rasakan di kota ini, Jogjakarta. Jalanan yang sudah tidak selengang dulu, masyarakat yang lebih individual, udara yang juga mulai tercemar, dan Gunung Merapi yang sudah tak terlihat lagi dari tengah kota, terhalang maraknya pembangunan hotel demi hotel.

Mungkin perubahan tersebut terdengar negatif, memang benar. Tetapi pilihan tetaplah pilihan. Saya pun memilih untuk tinggal di sini, memilih untuk mencintai kota ini. Dan bukan cinta namanya jika hanya menerima indah-indahnya saja dan mengeluhkan keburukannya, seraya tidak menerimanya. Jika nasi sudah menjadi bubur, maka sudah kewajiban saya untuk menjadikannya bubur Kwang Tung yang sangat terkenal itu.

Seperti itu juga dirinya. Seseorang yang saya pilih saat ini. Jika saya mendengar kisah masa lalunya, dirinya adalah seseorang yang memiliki hobi untuk mengalah dan mengedepankan perasaannya. Mengelus dada sudah menjadi sarapan dan juga hidangan makan siangnya. Kemudian memilih rasa sabar untuk menu makan malamnya. Siapa yang tidak ingin memiliki pasangan seperti itu?

Namun, dirinya saat ini memilih untuk lebih mengedepankan logikanya, meminimalkan perasaannya. Rela disebut bersikap sarkas terhadap kehidupan demi tidak mengulangi apa yang seharusnya tidak terjadi di perjalanan hidupnya yang lalu. Dirinya memilih untuk megurangi rasa tidak-enakan-nya terhadap seseorang yang dirasa menghambat.

Tetapi sekali lagi, itulah seni dalam memilih, keindahan berkomitmen, keharusan dalam mencintai. Layaknya jemari yang memiliki celah, agar bisa diisi oleh jemari di tangan satunya. Agar bisa saling mengisi satu sama lain. Yang justru memberi saya banyak hal baru dalam memandang hidup. Yang justru membuat saya lebih bisa mengurangi sifat gegabah saya dalam memutuskan sesuatu. Yang justru menjadikan saya tidak melulu menggunakan kacamata makro dalam melihat sebuah permasalahan.

Dirinya yang saya ibaratkan sama dengan kota ini, yang sejatinya pribadi yang baik, sederhana, apa adanya, yang kemudian mengalami banyak perubahan akibat dari janji-janji yang berkuasa. Tapi tunggu dulu, bukankah dengan maraknya pembangunan dan perubahan itu, justru kota ini memang layak untuk dijadikan destinasi wajib bagi wisatawan? Tetap positif artinya.

Lalu dengan menerima perubahan itu, dan tetap melakukan yang terbaik, justru membuat saya bersyukur. Bersyukur masih bisa merasakan apa yang dinamakan rasa sayang dan juga logika.

Memang masih singkat perjalanan saya dengannya, masih banyak yang bisa terjadi di kemudian hari. Tapi kembali lagi, 12 tahun yang lalu saya juga masih terbilang singkat berada di kota ini, banyak yang terjadi. Namun saya percaya dengan menikmati proses (seperti yang saya lakukan selama 12 tahun ini) saya yakin semuanya akan berakhir indah. If its not alright, its not the end.

Saya pun menutup tulisan ini dengan selalu percaya terhadap lima hal; niat baik, usaha, doa, ikhlas dan Gusti Allah mboten sare.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial