Tentang Rasa Nyaman ?>

Tentang Rasa Nyaman

Tadi malam, di angkringan depan kantor, ketika saya sedang khusyuk menyeruput teh hangat, teman saya yang sepertinya sedang galau menghampiri. Obrolan pun dimulai. Hingga muncul sebuah pertanyaan dari teman saya itu yang membuat saya sempat tersedak, “Emang menurutmu, cinta yang seharusnya itu bagaimana”.

Jujur, saya bingung menjawabnya, karena ukuran/standart ‘seharusnya’ pasti berbeda di setiap orang. Mungkin bagi beberapa orang, seharusnya itu begitu. Namun bagi yang lainnya, bisa saja seharusnya itu begini.

Saya pun hanya menjawab, “Cinta yang bisa membuat nyaman”. Singkat, padat, jelas, dengan harapan tidak ada pertanyaan yang lebih mendalam. Tetapi saya salah menduga, teman saya itu justru semakin serius, seraya membalas jawaban saya.

“Bukannya sesuatu yang nyaman itu berbahaya? Contohnya comfort zone“.

Wah iki, tetep dowo (bakal panjang) iki pembahasannya.

Saya pun menjelaskan kepada teman saya itu, hal-hal yang bisa membuat nyaman belum tentu mengandung unsur yang bagus dan memiliki nilai yang tinggi. Dan memang benar, jika suatu kenyamanan hanya didasari hal-hal yang baik secara umum saja, bisa bahaya.

Lalu mengibaratkannya dengan pakaian untuk tidur. Apa hubungannya dengan tidur? Ya karena menurut saya, kita membutuhkan sesuatu yang nyaman agar kita bisa tertidur dengan pulas.

“Lebih mahal mana, jas atau gaun, dengan kaos oblong atau daster?” tanya saya.

“Ya jelas lebih mahal jas atau gaun lah” jawabnya.

“Oke, tapi kenapa ketika orang ingin tidur, yang dipakai daster atau kaos oblong, bukan jas atau gaun?”

“Iya juga ya” ujarnya singkat.

“Kaos oblong atau daster bukanlah pakaian yang terbaik atau termahal di lemari pakaian kita. Tapi kedua jenis pakaian tadi adalah yang ternyaman. Karena, terkadang kita tidak membutuhkan hal-hal yang baik saja di dalam sebuah hubungan”, pungkas saya, dan teman saya pun mengangguk-angguk.

Itulah mungkin, mengapa ada kalimat “Because in the end, we are looking someone who feels like home”. Ya, sesederhana apapun rumah yang kita miliki, setipis apapun kasur dan bantal yang ada di kamar, namun hal-hal itulah yang selalu membuat kita nyaman. Ketimbang memilih untuk menginap di lain tempat.

Mbuhlah, wagu sekali sepertinya jawaban-jawaban saya tadi. Semoga teman saya tidak kapok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial