Selamat Pensiun, BDI ?>

Selamat Pensiun, BDI

Saya adalah salah satu yang merasa kehilangan keseruan dari Twitter. Ya, semakin kesini Twitter memang semakin membosankan. Semakin banyak aturan, semakin banyak pertarungan. Hingga saya menyebutnya “Para warga Twitter yang maha benar”. Mungkin sudah lebih dari dua tahun saya nyuekin Twitter karena alasan-alasan itu.

Masih membekas bagaimana serunya Twitter pada era kejayaannya. Bahkan bisa dibilang, sebagian besar teman-teman saya saat ini berasal dari media sosial berlogo burung tersebut. Twitter seakan mampu menjadi solusi komunikasi dengan siapapun, di belahan dunia manapun. Dan berkat Twitter, saya bisa kenal dengan salah satu sosok penting di dunia warta digital di Indonesia, Budiono Darsono.

Saya masih mengingatnya, berawal dari postingan foto yang di upload oleh Iim Fahima (salah satu praktisi iklan) di hari Jumat pada tahun 2010. Beliau memposting foto pria berkumis, berkacamata, berkaos oblong, dengan senyuman lebarnya. “Nih kenalin, Om Budiono Darsono, yang punya detik.com, #FF”. Tagar #FF (Follow Friday) adalah salah satu tagar yang terkenal di Twitter. Tagar yang biasanya muncul di hari Jumat untuk menyuruh followers yang dimiliki untuk memfollow salah satu akun.

Karena saya memang salah satu pembaca Detik, maka saya langsung memfollow akun tersebut. Saat itu follower BDI (panggilan Budiono Darsono) masih sekitar 300an kalau tidak salah. Tweet demi tweet dari BDI saya perhatikan, jarang dirinya berlaku layaknya seorang pemilik portal berita nomor satu di Indonesia. Kebanyakan dari tweetnya adalah tentang sepakbola dan kuliner.

Awalnya saya masih segan untuk menimpali tweetnya, hingga saya iseng ketika BDI mengupload foto makanan sate kambing. “Wah, kapan-kapan ajak saya makan disana Pak”, kira-kira begitu retweet dari saya, tanpa berharap dibalas, memang hanya iseng. Tetapi diluar dugaan, beliau yang notabene tidak mengenal saya, membalas “Ayo, sini”.

Balasan itu membuat saya bertanya-tanya dan bergumam, Iki tenanan iki? Opo mung basa-basi thok?. Kemudian saya pun membalasnya, “Wah, saya di Jogja Pak, kalo saya mudik ke Jakarta ya”. Dengan masih tidak terlalu berharap kembali dibalas oleh beliau. Namun ternyata beliau mereply, “Oke, kabari ya kalo ke Jakarta”.

Itulah kira-kira bagaimana awal saya berkenalan dengan BDI melalui dunia maya. Setelah itu, kita sering saling ejek tentang sepakbola. Saya yang merupakan fans Manchester United, bertolak belakang dengannya. Meskipun beliau tidak punya klub favorit, namun mengidolai klub yang dilatih oleh Jose Mourinho.

Baiklah, kembali ke hasil perkenalan awal tadi. Saya menerima ‘tantangan’ tersebut, dan menghubunginya ketika saya pulang ke Jakarta. Dan ternyata bukan basa-basi, keesokan harinya saya disuruh main ke detik.com. Kita makan siang sate kambing dilanjut dengan mengobrol panjang lebar di ruang meeting kantornya itu yang berada di bilangan Warung Buncit. Masih ingat betul, beliau memamerkan iPad yang saat itu belum launching di Indonesia. “Ini nih yang namanya iPad Gha, masa depan gadget ya kayak gini ini. Kamu pasti belum pernah megang tho”, ujarnya sambil tertawa.

Saya juga termasuk salah satu yang mengikuti bagaimana detik-detik portal berita itu berpindah tangan. Saya sempat bertanya mengapa dijual. Jawabannya pada saat itu, “Daripada jadi bos tapi uangnya sedikit, mendingan nggak jadi apa-apa tapi punya banyak uang.”.

Hingga saat ini, saya masih berteman baik dengannya, beliau adalah salah satu guru dan panutan saya. Jika beliau sedang ke Jogja, saya pasti bakal menemaninya untuk kulineran. Dari beliau, saya banyak mendapatkan referensi kulineran di Jogja. Ketika saya pulang dan memang ada waktu luang, saya juga beberapa kali menyempatkan untuk bertandang.

Dan akhirnya, kemarin muncul berita jika beliau menyatakan ‘pensiun’ dari usaha yang sudah dirintisnya selama kurang lebih 18 tahun tersebut. Usaha yang awalnya hanya bermodalkan handycam, recorder, dan ruangan sempit di Lebak Bulus, hingga menjadi usaha yang profitnya lebih dari 9 digit.

Selamat menikmati jerih payah selama belasan tahun BDI, semoga tetap diberikan kesehatan. Selamat menjadi orang bebas. What next Pak? Ajak-ajak boleh lho, hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial