Pilah Pilih Pilihan ?>

Pilah Pilih Pilihan

Ketika kita terbangun di pagi hari, kita kemudian memilih apa yang akan dilakukan terlebih dahulu. Melihat jam di dinding, melongok ke luar jendela, atau membuka telepon pintar kita. Jika kita memutuskan untuk membuka telepon pintar, kita pun dihadapkan dengan pilihan-pilihan berikutnya. Apa yang akan kita lihat terlebih dahulu? Perangkat chat, email, media sosial, atau kabar tentang pertandingan sepakbola tadi malam.

Kita pun bangun dan keluar dari kamar. Lagi-lagi berbagai macam pilihan sudah menanti untuk ditentukan. Apakah kita ingin meminum air putih terlebih dahulu, menghidupkan musik, menyalakan komputer, atau langsung mengambil handuk untuk mandi?

Pilihan-pilihan masih terus datang silih berganti setelahnya. Kendaraan apa yang akan kita gunakan untuk berangkat beraktifitas? Jalur mana yang akan ditempuh? Musik apa yang akan kita dengarkan? Makan siang dengan apa? Dan lain-lain, dan lain-lain.

Tanpa kita sadari, hidup memang berisi serangkaian pilihan demi pilihan yang harus kita pilih. Namun kita jarang menyadarinya, karena nilai pilihan itu tidak seberapa besar. Kita hanya menyebutnya pilihan jika sudah besar nilainya, dan kita punya nilai sendiri-sendiri untuk menentukan besar atau tidaknya.

Terima atau tidak, salah satu cara menjalani kehidupan adalah dengan memilih. Seperti saya yang memutuskan untuk menjadi bagian dari kota ini. Kota yang sepertinya sudah tidak senyaman ketika 12 tahun lalu saya datang. Pilihan yang mungkin membuat saya sempat kehilangan sesuatu yang besar dalam perjalanan hidup saya.

Tapi itulah seni dari memilih, komitmen dengan apapun resikonya. Karena tidak ada pilihan yang sempurna, kitalah yang bertugas menyempurnakan pilihan-pilihan tersebut, bukan malah lari seperti banci.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial