Playboy Yang Tidak Bahagia ?>

Playboy Yang Tidak Bahagia

Ketika gw pulang ke rumah Jakarta, sehabis makan malam bersama keluarga, kita (se-mobil) selalu diberikan pemandangan seorang tukang becak yang mempunyai warung kopi pinggir jalan, sedang tidur tanpa baju. Tidurnya pun sering berpindah-pindah. Kadang dia diatas becaknya, kadang diatas meja pinggir jalan, dan tak jarang pula tidur di depan pintu Alfamart yang sudah tutup. Mengiringi kejadian itu, bokap hampir dipastikan selalu ngomong “Enak banget jadi orang itu, tidurnya nyenyak, pasti hidupnya gak banyak mikir macem-macem”. “Banyak orang yang susah banget tidur karna pikirannya bercabang, mikirin utang, mikirin kerjaan, mikirin selingkuhan” biasanya itu lanjutannya.

Analogi yang aneh, tapi sangat realistis sih. Semakin tinggi tingkat kehidupan (materi, pangkat, derajat, dsb)  seseorang semakin pendek pula waktunya untuk beristirahat. Entah karna sudah terbiasa, ataupun karna beberapa alasan tadi. Kemudian gw pun membuat analogi asal-asalan, menurut gw semakin tinggi tingkat kehidupan seseorang, semakin jarang pula kebahagiaan yang menyertai mereka. Etapi gw nggak sembarang ngomong sih.

IMHO, ketika tingkat kehidupan orang bertambah tinggi, maka dipastikan juga tingkat kepuasan mereka bakal bergeser. Standar kebahagiaan mereka bakal meningkat juga. Seorang traveller pas-pasan, pasti sudah sangat bahagia ketika ia bisa mengelilingi Indonesia. Namun bagi seorang traveller yang punya pesawat pribadi, sudah tentu ia tidak akan merasa bahagia ketika belum merasakan singgah di 5 benua. Hingga kemudian mereka mati, dan mereka tidak merasa bahagia di akhir kematiannya. Sia-sia hidupnya.

Ironi, meningkatnya tingkatan hidup seseorang, malah membuat orang tersebut lupa dengan ‘pemberian’ tersebut. Mereka justru berpikir, mereka berhak untuk merasakan tingkatan-tingkatan berikutnya. Mereka tidak bahagia dengan apa yang mereka dapatkan saat ini. Sebentar saja digenggam, kemudian dihempaskan, untuk dicari penggantinya. Contohnya seperti apa? Entahlah, yang ada di benak gw sih playboy ataupun playboy wannabe.

Orang-orang seperti ini merasa berhak untuk berganti-ganti pasangan, senin hingga sabtu, kemudian minggu juga berbeda. Mereka merasa jika mereka wajib digilai. Mereka juga merasa punya ramuan yang mujarab untuk merayu target selanjutnya. Mereka merasa lebih, sehingga untuk pasangan pun mereka ingin lebih, tidak hanya satu. Tapi sesungguhnya, jauh di bawah alam sadarnya alasan utamanya adalah mereka itu tidak pernah merasa bahagia. Mereka dengan gampangnya meninggalkan seseorang yang mereka pilih dengan sadar dan tanpa paksaan, dengan pilihan-pilihan berikutnya. Karna mereka tidak pernah merasa bahagia dengan pilihan-pilihannya.

Untuk mensyukuri kekasih (yang sudah jelas bisa dilihat, disentuh, diajak berbicara) saja mereka buta, apalagi jika harus mensyukuri apa yang tidak terlihat, seperti masih bisa bernafas dengan baik, masih bisa melihat dengan jelas, masih bisa mengecap dengan santap dll. Mbuhlah, itu urusan mereka. Karna disini gw nggak mau nulis tentang salah dan benar. Semua ini cuma dari sudut pandang gw. Gw cuma iba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial